IBARAT langit dan bumi, perkembangan Kota Batam ternyata bertolak belakang dengan kondisi penduduk asli Pulau Rempang di Tanjung Kelingking atau sering disebut dengan suku hutan. Kehidupan masyarakat ini sangat tradisional, jauh dari kemajuan zaman.Tahun 2001 ada salah satu pengusaha dari Batam yang akan membuat kawasan Resort barulah kampong Melayu ini mulai dapat ditempuh jalaur darat. Sehubungan dengan masih belum jelasnya status lahan dan pailitnya perusahaan tersebut maka jalaur darat tidak lagi diperhatikan dan kondisi semakin hari semakin rusak sehingga sangat berbahaya untuk dilalui saat ini.
Bagi orang Tanjung Kelengking hanya inilah jalur yang ada untuk membuka terisolasinya kampung ini dengan dunia luar via jalur darat maka dengan segala resiko tetap di jalani yang mengakibatkan beberapa kali kecelakkan di jalan tersebut.
Dengat semangat membangun Kampong halaman MAT ALI ketua Pemuda Kampong, bertekat untuk memperbaiki jalan tersebut demi kelangsungan hidup penduduk yang dinggal disana, maka ia melakukan kerja sama dengan Yayasan Tenas Effendy ( tenas foundation ) untuk membuat KONSER AMAL dalam menggalang dana untuk pelebaran jalan tersebut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar